OPINI, SNC – Di Desa Oemofa, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Bupati Kupang Yosef Lede kembali menyampaikan pesan yang, untuk sebagian orang, terdengar sederhana: “Jangan hanya menunggu bantuan, mulai menanam.” Namun di balik kalimat itu tersimpan kritik sosial yang jauh lebih dalam, bahkan mengandung nilai-nilai filsafat yang patut direnungkan. Dalam konteks pembangunan lokal, pernyataan tersebut merupakan refleksi tentang agency (kemampuan bertindak), etika kerja, dan relasi manusia dengan tanah yang mereka tempati.
Bantuan pangan pemerintah—beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter per kepala keluarga—memang menjadi penopang hidup jangka pendek. Namun Bupati Lede menegaskan bahwa bantuan ini bukan tujuan, melainkan jembatan menuju kesadaran baru: bahwa kesejahteraan tidak lahir dari pasifitas, melainkan dari aktualisasi potensi.
Di sinilah inti persoalannya. Kupang Timur bukan menderita karena kurangnya bantuan, melainkan karena surplus ketergantungan dan defisit kemauan kolektif untuk memaksimalkan lahan sendiri. Bukan lagi soal bantuan, tetapi soal kemauan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









