Antrean SPBU Mengular, Winston Rondo Desak Pertamina Buka Data Kuota Pertalite untuk NTT

Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas harian, waktu yang dihabiskan untuk mengantre juga memiliki konsekuensi ekonomi. Jam kerja berkurang, pelayanan kepada pelanggan tertunda, dan produktivitas dapat menurun.

Dampaknya bisa menjadi lebih berat bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat distribusi. Dalam kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak pulau, persoalan pasokan dan distribusi perlu dilihat berdasarkan kebutuhan serta kondisi logistik masing-masing wilayah.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Karena itu, penanganan kelangkaan Pertalite tidak cukup berhenti pada upaya mengurai antrean di SPBU. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan secara konsisten, memperbaiki koordinasi distribusi, dan menyiapkan mekanisme respons cepat ketika terjadi gangguan.

Winston menegaskan, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan ketika akses terhadap BBM bersubsidi terganggu.

“Rakyat kecil yang paling menderita. Tukang ojek, petani, nelayan, pedagang, semuanya membutuhkan BBM untuk bekerja. Ketika Pertalite kosong, mereka terpaksa membeli lebih mahal. Ini akhirnya memukul ongkos transportasi, harga barang, dan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten
Baca Juga :  Apel Pagi di Kupang Diwarnai Pelepasan ASN Purna Tugas
  • Bagikan