Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah ke level 98,36, sementara yield US Treasury (UST) Note tenor 10 tahun meningkat ke 4,245%. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyesuaian pasar global masih berlangsung, dengan investor global menimbang arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Meski demikian, pelemahan DXY memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, untuk tetap bergerak stabil.
Dari sisi persepsi risiko, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 22 Januari 2026 tercatat sebesar 73,28 basis poin (bps), meningkat dibandingkan posisi 15 Januari 2026 sebesar 70,86 bps. Kenaikan CDS ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan peningkatan kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang. Namun, level CDS Indonesia masih relatif kompetitif dan mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi domestik.
Perkembangan arus modal asing juga menunjukkan dinamika jangka pendek. Berdasarkan data transaksi 19–22 Januari 2026, investor nonresiden tercatat melakukan jual neto sebesar Rp5,96 triliun di pasar keuangan domestik. Jual neto tersebut terdiri dari Rp2,67 triliun di pasar saham, Rp1,44 triliun di pasar SBN, serta Rp1,85 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pergerakan ini mencerminkan rebalancing portofolio global seiring meningkatnya yield aset safe haven.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









