Selain menolak forum komunikasi, warga juga mengkritik pendekatan kompensasi dan mekanisme pengaduan yang dinilai tidak menjawab persoalan mendasar mengenai keberadaan proyek geothermal.
Bagi masyarakat, isu yang dipersoalkan bukan sekadar nilai kompensasi atau bentuk ganti rugi, tetapi menyangkut keberlangsungan ruang hidup, budaya, dan identitas masyarakat adat.
Dalam surat itu, warga meminta agar kampus dan gereja tidak menjadi bagian dari proses yang dianggap memberikan legitimasi terhadap proyek geothermal.
Mereka mendesak lembaga pendidikan dan keagamaan untuk mengambil posisi yang lebih dekat dengan masyarakat yang mengaku terdampak langsung oleh aktivitas proyek.
“Berhentilah menjadi stempel bagi proyek yang menurut kami mengancam ruang hidup masyarakat,” tulis warga dalam salah satu bagian surat terbuka tersebut.
Jejaring Komunitas Tolak Geothermal Flores-Lembata juga menegaskan lima sikap utama. Pertama, menolak forum multistakeholder yang digagas kampus. Kedua, memboikot seluruh kegiatan forum dan tidak mengirimkan perwakilan. Ketiga, menolak pencantuman nama komunitas dalam dokumen hasil forum.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









