Kabupaten Kupang, dengan beberapa wilayahnya yang masih berstatus daerah tertinggal, menghadapi tantangan klasik: minimnya fasilitas, ketimpangan akses, dan ketidakteraturan data yang sering menghambat alokasi anggaran dari pemerintah pusat.
Namun dalam tatapan para peserta, tampak jelas bahwa mereka tidak ingin menyerah pada statistik. Mereka ingin menjadi bagian dari perubahan yang berbasis ilmu dan bukan sekadar rutinitas administratif.
“Bagaimana Kita Menjemput Bola Jika Kita Tak Siap Menerimanya?”
Dalam sambutannya, Aurum Titu Eki melontarkan kalimat yang bukan hanya retoris, tetapi filosofis:
“Efisiensi anggaran sedang menjadi tantangan nasional. Kita harus aktif menjemput bola. Tetapi bagaimana kita menjemput bola jika kita sendiri tidak siap menerima bola itu?”
Kalimat itu mengalir seperti pengingat yang lembut namun menusuk. Ia mengandung kesadaran bahwa kesiapan administratif adalah prasyarat utama bagi transformasi. Di era digital, ketepatan data adalah indikator profesionalitas suatu lembaga. Tanpanya, rencana hanyalah wacana, bantuan menjadi tertunda, dan anak-anak menjadi pihak yang paling dirugikan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









