Menariknya, Presiden Korea Lee Jae Myung dalam pengantar pertemuan ini menghubungkan transformasi bilateral tersebut dengan warisan sejarah Bandung 1955. Dalam lensa equilibrium studies, Semangat Bandung bukan sekadar arsip sejarah politik global, tetapi “modal sosial” yang bisa direinterpretasi ulang menjadi orientasi “equilibrium and balanced power relation” di tengah kompetisi geoekonomi Asia Timur – Asia Tenggara. Nilai-nilai historis tersebut—yakni balance, autonomy, cooperation, pragmatism—secara konseptual adalah kerangka epistemik yang relevan dengan diplomasi ekonomi budaya.
Dalam kerangka kebijakan luar negeri, pilihan Prabowo mendorong Korea berinvestasi lebih dalam pada sektor ekonomi kreatif bukan sekadar preferensi politis, tetapi merupakan strategi integrasi portofolio ekonomi digital-budaya yang saat ini menjadi new engine of growth. Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan indeks ekspor budaya terbesar di dunia — Korean Wave telah membuktikan bahwa budaya adalah “technological-capitalized intangible asset” yang bisa dikonversi menjadi hard currency ekonomi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








