Penguatan kerja sama kebudayaan RI–Korea bukanlah isu “lunak” dalam diplomasi negara, tetapi merupakan intrinsic economic frontier berikutnya. Karena di era ekonomi digital, budaya adalah basis daya saing, dan value capture terjadi pada narasi dan pengalaman konsumsi (consumer experience), bukan pada batang-batang baja.
Oleh sebab itu, arah diplomasi Prabowo sangat logis: Korea tidak hanya menjadi mitra belanja teknologi pertahanan, tetapi juga mitra investasi ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Karena di abad ini, keuntungan terbesar ada pada narasi global siapa paling kuat mengekspor budayanya.
Dan Indonesia, dengan 700+ etnik dan biodiversitas narasi budaya, memiliki “mine of content” yang jika diindustrikan dengan standard teknologi dan production discipline ala Korea — bisa menjadi “mesin devisa baru” yang lebih resilien dibanding ekspor raw material.
Maka dari itu, dari Gyeongju, pesan diplomasi Prabowo jelas: hubungan RI–Korsel bukan hanya soal hard power industries; tetapi juga cultural value chain sebagai fondasi ekonomi masa depan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








