Indonesia sedang bergerak menuju model yang sama: memproduksi cultural capital menjadi economic capital. Potensi ini sedang tumbuh melalui film, musik, industri konten, animasi, mode, gim, kuliner, hingga video streaming, dengan basis pasar domestik yang sangat besar (lebih dari 277 juta penduduk) dan indeks penetrasi digital di atas 76 persen.
Apa yang diinginkan Presiden Prabowo adalah transfer logika industri budaya Korea — bukan sekadar mendatangkan investasi. Indonesia ingin belajar cara Korea “menstandarisasi” creative industry menjadi exportable assets dan consumer goods global. Dengan kata lain: Indonesia ingin membuat budaya menjadi tradable commodity berdaya saing global.
Di dunia ilmu ekonomi industri, ini disebut skema knowledge–cultural transfer berbasis Creative Economy Co-Incubation Model.
Dalam prakteknya, bentuk kerja sama ini dapat mencakup:
- joint production konten film/series Indonesia–Korea
- standardisasi distribusi streaming antar platform dan negara
- cross-cultural branding kuliner, mode, dan produk gaya hidup
co-investment studio animasi dan gaming
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








