Bagi warga Desa Batu Hula, malam itu terasa berbeda. Tidak ada perayaan meriah, tetapi ada rasa diakui dan didengar. Sambutan Presiden, yang disampaikan dalam suasana sederhana, menjadi penanda bahwa penderitaan mereka tidak sepenuhnya berada di pinggiran perhatian negara.
Meski demikian, penegasan Presiden juga memuat tantangan tersendiri. Janji bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan rakyat adalah pernyataan yang akan terus diuji oleh waktu, oleh konsistensi kebijakan, dan oleh kehadiran nyata aparat negara setelah sorotan publik mereda. Dalam konteks inilah, Batu Hula menjadi lebih dari sekadar lokasi kunjungan—ia menjadi cermin bagi relasi negara dan warga dalam situasi krisis.
Saat tahun berganti, harapan warga Batu Hula tidak hanya tertumpu pada kata-kata, tetapi pada keberlanjutan tindakan. Pesan gotong royong dan kehadiran negara yang disampaikan Presiden Prabowo malam itu kini menjadi pegangan moral sekaligus kontrak sosial: bahwa negara, sebagaimana dijanjikan, benar-benar akan tetap tinggal bersama rakyatnya, bahkan ketika sorak perayaan telah usai.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








