Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang diwakilkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat, drh Melky Angsar, MSc menyambut baik inisiatif FAO.
Ia menilai CABI berpotensi menjadi model yang dapat direplikasi ke kabupaten-kabupaten lain di NTT, memperkuat jaringan respons penyakit hewan serta menjaga ketersediaan pangan dan mata pencaharian masyarakat pedesaan.
FAO sendiri menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan kapasitas lokal dan menjalin kerja sama lintas-otoritas untuk memastikan praktik biosekuriti bertahan setelah program selesai. Implementasi biosekuriti pada peternak kecil memerlukan adaptasi terhadap kondisi ekonomi dan budaya setempat, serta dukungan berkelanjutan mulai dari akses pakan aman hingga kebijakan yang melindungi peternak dari kerugian saat terjadi wabah.
Peluncuran CABI di Kupang menandai babak baru dalam upaya menanggulangi ASF di Indonesia bagian timur. Jika berhasil, program ini tidak hanya menyelamatkan populasi babi lokal, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga — menunjukkan bahwa intervensi sederhana namun tepat dapat menghasilkan dampak besar bagi komunitas yang paling rentan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









