Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Algoritma Media Sosial Mengancam Kemampuan Belajar Peserta Didik

Kontributor : Omri Nomleni Editor: Redaksi
IMG 20260502 WA0018

Algoritma Media Sosial Mengancam Kemampuan Belajar Peserta Didik

Oleh : Omri Nomleni (Guru SMAN Kotolin – TTS)

TTS, SNC – Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai platform media sosial yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan peserta didik. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi juga ruang interaksi sosial dan sumber informasi. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat satu kekuatan yang sering luput dari perhatian: algoritma.

Algoritma media sosial bekerja dengan cara menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Sekilas hal ini tampak membantu. Namun dalam praktiknya, algoritma justru berpotensi membentuk pola konsumsi informasi yang instan, dangkal, dan adiktif terutama bagi peserta didik yang masih dalam tahap perkembangan kognitif.

Data menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di kalangan pelajar Indonesia sangat tinggi. Sekitar 83,80% peserta didik usia 5–23 tahun telah mengakses internet, dan sebagian besar menggunakannya untuk media sosial dan hiburan. Bahkan, hampir seluruh mahasiswa (sekitar 98%) aktif di berbagai platform digital. Fakta ini menegaskan bahwa media sosial telah menjadi aktivitas utama, bukan lagi sekadar pelengkap.

Baca Juga :  Ayo Bangun NTT: Antara Capaian Nyata dan Tantangan Struktural SDM
  • Bagikan