Dari perenungan itu, saya mulai menyadari bahwa mungkin selama ini saya terlalu berfokus pada perilaku murid tanpa sungguh-sungguh memahami alasan di balik perilaku tersebut.
Saya kemudian berpikir bahwa belajar bukan sekadar datang ke sekolah, duduk di kelas, mendengarkan penjelasan guru, dan menulis materi di buku catatan. Ada aspek kehidupan, karakter, kondisi emosional, dan latar belakang keluarga yang turut memengaruhi kesiapan seorang anak untuk belajar.
Saya pun memutuskan untuk mengubah pendekatan.
Saya memanggil salah seorang murid yang selama ini sering tidak hadir dalam pelajaran IPA Terpadu. Namun, kali ini saya tidak ingin menegurnya di depan teman-temannya ataupun langsung memberikan sanksi. Saya mengajaknya berbicara secara khusus di ruang guru, dalam suasana yang lebih tenang, hanya antara saya dan dia.
Saya berusaha memosisikan diri bukan hanya sebagai seorang guru yang memiliki kewenangan untuk menegur, tetapi juga sebagai seorang ibu yang ingin memahami keadaan anaknya.
Dengan nada lembut, saya bertanya tentang alasan mengapa ia sering tidak masuk sekolah, kurang aktif dalam pembelajaran, dan terkadang meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
