Jangan sampai kita terlalu sibuk menuntut anak untuk berubah, tetapi lupa menyediakan waktu untuk memahami alasan mengapa mereka sulit berubah.
Mari menjadi guru yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga bersedia mendengarkan. Menjadi guru yang tidak hanya mampu memberikan hukuman, tetapi juga mampu memberikan pengertian. Menjadi guru yang tidak hanya mengejar ketuntasan nilai, tetapi juga peduli terhadap pertumbuhan karakter dan kehidupan setiap anak didiknya.
Terkadang satu percakapan yang tulus dapat mengubah cara pandang seorang anak terhadap sekolah, masa depan, bahkan terhadap dirinya sendiri.
Sebelum kita menyebut seorang murid malas, cobalah mendengarkan kisah hidupnya. Sebab, di balik perilaku yang tidak kita pahami, mungkin ada perjuangan yang belum pernah kita ketahui.
Kiranya Tuhan senantiasa memberikan hikmat dan hati yang penuh kasih kepada setiap pendidik, agar kita tidak hanya menjadi pengajar yang mencerdaskan pikiran, tetapi juga menjadi pendidik yang menyentuh hati dan menguatkan kehidupan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
