Pengalaman tersebut membuat saya menyadari satu hal penting: kesulitan menulis tidak selalu berarti murid tidak mampu menulis. Bisa jadi, mereka belum mendapatkan pengalaman belajar yang membuat mereka memiliki sesuatu untuk ditulis.
Di titik inilah saya mulai mengubah pertanyaan. Bukan lagi, “Mengapa murid malas menulis?” Melainkan, “Apa yang dapat saya lakukan agar murid memiliki alasan untuk menulis?” Perubahan pertanyaan tersebut ternyata mengubah cara saya melihat persoalan.
Mengubah Pembelajaran dari “Harus Menulis” Menjadi “Ingin Menulis”
Berdasarkan refleksi tersebut, saya mencoba mengubah pendekatan pembelajaran. Saya tidak lagi menjadikan menulis sebagai kegiatan yang berdiri sendiri di akhir pembelajaran. Sebaliknya, menulis saya tempatkan sebagai bagian dari proses murid menemukan, mengolah, dan menyampaikan pengetahuan.
Saya menggunakan metode inkuiri ABCDE: Amati, Bertanya, Cari Tahu, Diskusi, dan Evaluasi.
Tahap pertama adalah Amati. Saya mengawali pembelajaran dengan menghadirkan gambar, video, atau objek yang berkaitan dengan materi. Murid tidak langsung diminta mencatat. Mereka diberi kesempatan untuk melihat dan mengamati.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








