Menembus Keterbatasan: Ikhtiar Literasi dari Pinggiran

Kontributor : Kontributor SN Editor: Redaksi
IMG 20260221 181211

Ketika hasil Asesmen Nasional menunjukkan kemampuan literasi siswa masih rendah dan rapor pendidikan sekolah berada pada kategori merah, itu menjadi titik refleksi sekaligus panggilan untuk bergerak. Bagi kami, angka tersebut bukan untuk disesali, melainkan dijadikan kompas perubahan.

Sekolah yang “Berbicara”

Langkah pertama dimulai dari hal sederhana: menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang hidup. Dinding tidak lagi sekadar tembok kosong, tetapi berubah menjadi kanvas ide. Karya siswa dipajang dengan bangga, mulai dari peta Pulau Timor berbahan kulit telur hingga herbarium hasil eksplorasi alam sekitar.

Setiap sudut seolah “berbicara”, mengundang rasa ingin tahu, dan mengirim pesan bahwa belajar bisa hadir dalam banyak bentuk.

Perubahan kecil ini menghadirkan suasana baru: sekolah bukan hanya tempat menerima pelajaran, tetapi ruang untuk menemukan makna.

Pojok Baca, Pojok Harapan

Di salah satu sudut sekolah, pojok baca menjadi ruang sederhana yang menyimpan harapan besar. Buku-buku tersusun seadanya, tetapi di sanalah kebiasaan baru perlahan tumbuh.

Baca Juga :  Sekolah Rakyat dan Negara yang Hadir: Menata Ulang Arah Kebijakan Pendidikan Nasional
  • Bagikan