Guru dapat memulainya melalui beberapa pertanyaan sederhana, pengamatan terhadap pekerjaan murid, percakapan individual, atau soal-soal dasar yang sesuai dengan materi. Yang penting adalah hasil asesmen tidak berhenti menjadi angka. Jika seorang murid memperoleh jawaban yang salah, guru perlu mencari tahu mengapa kesalahan tersebut terjadi.
Apakah konsep dasarnya belum dipahami?
Apakah instruksi soal belum dimengerti?
Apakah murid membutuhkan contoh yang lebih konkret?
Apakah ia membutuhkan pendampingan lebih intensif?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu guru bergerak dari sekadar menilai hasil belajar menuju memahami proses belajar.
Tidak Semua Murid Membutuhkan Cara yang Sama
Pengalaman ini juga semakin menguatkan keyakinan saya bahwa tidak semua murid dapat belajar dengan cara yang sama. Ada murid yang cepat memahami penjelasan secara lisan. Ada yang membutuhkan contoh konkret. Ada yang baru memahami setelah diberikan latihan beberapa kali. Ada yang membutuhkan pendampingan secara individual. Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi kehilangan kepercayaan diri karena terlalu sering mengalami kegagalan. Karena itu, pembelajaran tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi yang sama kepada semua murid dengan cara yang sama.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








