Di dalamnya akan tersimpan pengalaman guru dan murid, cerita kehidupan, gagasan, serta berbagai peristiwa sederhana yang mungkin selama ini hanya menjadi bagian dari keseharian mereka.
Bagi SMP Negeri O’obibi, buku itu bukan sekadar produk akhir. Ia menjadi bukti bahwa sekolah telah memberikan ruang kepada guru dan murid untuk belajar, mencoba, dan berkarya.
Lebih dari itu, buku tersebut dapat menjadi titik awal untuk membangun tradisi baru: bahwa membaca dan menulis bukan kegiatan yang dilakukan sesekali, melainkan bagian dari budaya sekolah.
Forum TBM Kabupaten TTS berharap langkah yang telah dimulai di SMP Negeri O’obibi terus dilanjutkan setelah pendampingan berakhir. Budaya literasi perlu dirawat melalui kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, dan menghasilkan karya secara berkelanjutan.
Sebab, membangun budaya literasi bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Namun, setiap perubahan besar selalu membutuhkan satu langkah pertama. Dan di SMP Negeri O’obibi, langkah pertama itu telah dimulai. Dari sebuah inisiatif, lahir kolaborasi. Dari kolaborasi, lahir tulisan. Dan dari tulisan, O’obibi mulai membangun budaya literasinya sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
