Tanggapan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang baru muncul setelah media dan masyarakat ramai membicarakan kasus ini. Kepala Dinas, Eliazer Teuf, mengakui adanya laporan dan menyatakan telah memanggil kepala sekolah untuk klarifikasi.
Namun masyarakat bertanya: mengapa tindakan seperti ini bisa terjadi di sekolah negeri? Siapa yang mengawasi kepala sekolah di daerah terpencil? Dan berapa banyak kasus serupa yang tak pernah terungkap hanya karena tidak ada yang berani bersuara?
Ironi Kabupaten Emas
Pemerintah Kabupaten Kupang sedang menggaungkan program “Kabupaten Emas” dengan prioritas pada sektor pendidikan. Namun di sudut terpencil seperti Amfoang Utara, dua anak justru kehilangan hak dasarnya hanya karena ibu membela siswa lain.
Ini bukan soal viral atau tidak viral. Ini soal sistem yang terlalu sensitif terhadap kritik dan terlalu keras kepada yang lemah. Jika seorang ibu tidak bisa membagikan kebenaran tanpa membahayakan masa depan anaknya, maka kita sedang hidup di bawah sistem yang anti-transparansi dan anti-keadilan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








