“Surplus tipis itu mudah hilang. Ketika ada guncangan kecil—cuaca ekstrem, gangguan distribusi, atau lonjakan harga konsumsi—petani bisa langsung jatuh ke posisi defisit,” katanya.
Hal ini relevan di NTT, wilayah yang secara struktural menghadapi tantangan iklim, keterbatasan infrastruktur, dan ketergantungan pada komoditas primer.
Statistik sering dianggap dingin dan kering. Namun di tangan yang tepat, angka justru membuka ruang empati. Penurunan NTP bukan hanya persoalan ekonomi makro, tetapi juga cerminan ketahanan sosial masyarakat perdesaan.
Ketika biaya hidup naik dan pendapatan relatif stagnan, strategi bertahan petani menjadi semakin kompleks: mengurangi konsumsi, menunda pengeluaran kesehatan, atau mencari pekerjaan tambahan di luar sektor pertanian.
Dalam konteks ini, Matamira menyebut data NTP sebagai alarm dini bagi pengambil kebijakan.
“Angka-angka ini harus dibaca sebagai peringatan. Kebijakan pertanian, subsidi input, dan pengendalian harga konsumsi harus benar-benar menyentuh kebutuhan petani,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








