Di sisi lain, beberapa subsektor justru mencatat kenaikan. Peternakan naik 0,41 persen, didorong harga sapi potong dan babi yang relatif membaik. Tanaman pangan juga naik 0,67 persen, terutama karena kenaikan harga jagung dan gabah.
Namun, Matamira mengingatkan agar publik tidak terjebak pada optimisme parsial.
“Kenaikan di satu subsektor tidak otomatis menutup penurunan di subsektor lain. Banyak rumah tangga petani di NTT menggantungkan hidupnya pada lebih dari satu subsektor,” ujarnya.
Artinya, petani yang menanam jagung bisa saja tetap terdampak oleh naiknya harga kebutuhan pokok, sementara petani kakao harus menghadapi penurunan harga hasil kebun sekaligus kenaikan biaya hidup.
Dengan NTP sebesar 101,55, petani NTT secara statistik masih berada di zona aman. Namun zona ini semakin sempit. Penurunan NTP selama dua bulan berturut-turut menjadi sinyal bahwa ketahanan ekonomi perdesaan berada dalam posisi rentan.
Matamira menekankan bahwa NTP yang berada sedikit di atas 100 bukan jaminan kesejahteraan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








