Bagi pelaku UMKM, transformasi digital memungkinkan produk tenun menjangkau konsumen nasional bahkan internasional tanpa harus bergantung pada toko fisik. Peluang ini sangat penting bagi daerah seperti NTT yang memiliki kekayaan budaya luar biasa namun sering menghadapi keterbatasan akses pasar.
Yang menarik, mahasiswa PTI tidak hanya diajarkan menjadi pelestari budaya, tetapi juga didorong menjadi technopreneur berbasis budaya. Mereka belajar bagaimana mengolah motif tradisional menjadi produk yang sesuai kebutuhan pasar modern tanpa menghilangkan nilai autentiknya.
Keberhasilan mahasiswa PTI meraih Juara II dalam ajang fashion show yang diselenggarakan Bank Indonesia menjadi bukti bahwa pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa produk berbasis budaya lokal mampu bersaing di ruang kreatif yang lebih luas.
Dalam konteks pembangunan daerah, langkah yang dilakukan Undana memiliki makna strategis. NTT selama ini dikenal kaya akan sumber daya budaya, tetapi belum seluruh potensinya terkonversi menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









