NTP NTT Turun Tipis, Beban Petani Makin Berat
Oleh: Redaksi
SNC, Awal Tahun 2026, di pedesaan Nusa Tenggara Timur selalu dimulai dengan harapan. Dari ladang jagung di Timor, kebun kakao di Flores, hingga kolam budidaya ikan di pesisir Alor, petani dan nelayan tetap bekerja dengan ritme yang sama: menanam, memelihara, menunggu panen. Namun di balik rutinitas itu, angka-angka statistik menunjukkan cerita yang tak selalu sejalan dengan kerja keras mereka.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Matamira B. Kale, pada Senin (5/1/2026), menyampaikan kepada media ini bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) NTT pada November 2025 tercatat sebesar 101,55, turun tipis dibandingkan Oktober 2025 yang berada di level 101,79. Secara teknis, angka ini masih berada di atas 100—menandakan petani secara agregat masih mengalami surplus. Namun, di balik istilah “surplus tipis” itu, tersembunyi tekanan yang semakin nyata.
“Penurunan NTP ini memang tidak besar, hanya 0,24 persen. Tetapi ini menjadi sinyal bahwa kenaikan harga yang diterima petani tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya yang harus mereka keluarkan,” ujar Matamira.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








