Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Sepenggal Rindu di Buritan

Kontributor : Y.N Editor: Redaksi
36b00642 57b8 4be3 91c9 48bfd4d38baa

Sepenggal Rindu di Buritan 

Oleh : Yabes Nubatonis, S.H. (Jurnalis & Advokat)

Advertisement
PASANG IKLAN DISINI
Scroll kebawah untuk lihat konten

SNC – Malam itu laut seperti menahan napas. Langit bersih, bintang bertaburan, dan angin dingin menyusup pelan saat KM Dharma Kartika V meninggalkan Pelabuhan Tenau, Kupang.

Di geladak, suara langkah awak kapal dan riuh penumpang perlahan mereda. Kapal melaju tenang, seolah membelah sunyi. Namun, mataku enggan terpejam. Perjalanan panjang menuju tanah Humba belum mampu menidurkan lelah yang kubawa.

Aku berjalan tanpa tujuan, menyusuri lorong dek, hingga langkahku terhenti di buritan.

Dari sana, sebuah suara mengalun lirih, serak basah, namun penuh rasa. Lagu tentang rindu. Suara itu seperti tidak hanya dinyanyikan, tetapi dihidupi.

Seorang perempuan berdiri di dekat kafe kecil. Jilbabnya tertiup angin, wajahnya samar diterpa cahaya lampu kapal. Namun suaranya jelas, jujur, dan entah kenapa terasa dekat.

Aku diam cukup lama. Sampai akhirnya, tanpa alasan yang benar-benar kupahami, aku melangkah mendekat.

“Hay,” sapaku pelan.

Baca Juga :  Kritis Menimbang Kekuatan Para Calon Gubernur NTT
  • Bagikan