Sepenggal Rindu di Buritan
Oleh : Yabes Nubatonis, S.H. (Jurnalis & Advokat)
SNC – Malam itu laut seperti menahan napas. Langit bersih, bintang bertaburan, dan angin dingin menyusup pelan saat KM Dharma Kartika V meninggalkan Pelabuhan Tenau, Kupang.
Di geladak, suara langkah awak kapal dan riuh penumpang perlahan mereda. Kapal melaju tenang, seolah membelah sunyi. Namun, mataku enggan terpejam. Perjalanan panjang menuju tanah Humba belum mampu menidurkan lelah yang kubawa.
Aku berjalan tanpa tujuan, menyusuri lorong dek, hingga langkahku terhenti di buritan.
Dari sana, sebuah suara mengalun lirih, serak basah, namun penuh rasa. Lagu tentang rindu. Suara itu seperti tidak hanya dinyanyikan, tetapi dihidupi.
Seorang perempuan berdiri di dekat kafe kecil. Jilbabnya tertiup angin, wajahnya samar diterpa cahaya lampu kapal. Namun suaranya jelas, jujur, dan entah kenapa terasa dekat.
Aku diam cukup lama. Sampai akhirnya, tanpa alasan yang benar-benar kupahami, aku melangkah mendekat.
“Hay,” sapaku pelan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








