Namun, bagi masyarakat yang hidup dekat dengan alam, persoalan lingkungan bukan sekadar istilah akademis.
Hutan berhubungan dengan kehidupan. Mata air menentukan keberlangsungan kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan kehidupan masyarakat. Ketika lingkungan rusak, masyarakat yang paling dekat dengan sumber daya alam menjadi kelompok yang merasakan dampaknya.
Di sinilah pendekatan Indigenous Climate Resilience yang diangkat dalam festival tersebut menjadi relevan.
Konsep ini menempatkan pengetahuan dan kearifan masyarakat adat sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan menghadapi perubahan iklim.
Masyarakat adat memiliki berbagai aturan, kebiasaan, dan nilai yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Dalam tradisi tertentu, hutan, mata air, dan kawasan yang dianggap memiliki nilai adat tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai objek eksploitasi.
Ada tanggung jawab moral dan sosial yang melekat pada setiap anggota komunitas untuk menjaga keberlangsungannya.
Karena itu, pesan “Tpanat ma tpao hit nasi, tparoir ma tfairoir oe mata” sesungguhnya mengandung prinsip pembangunan berkelanjutan: manusia tidak dapat memisahkan kesejahteraannya dari kelestarian alam.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.







