Sejak siang, lini masa X (dulu Twitter) riuh dengan tagar #TailorTipu. Banyak warganet menyoroti foto SI bersama Puan Maharani dan Atta Halilintar di pesta busana 2024. Komentar sinis pun bermunculan: “Baju pejabat mahal, tapi bayar utang nggak sanggup?” tulis @rakyathukum. Fenomena public shaming ini, menurut sosiolog digital Dewi Kartika, “menekan terduga untuk muncul dan memberikan klarifikasi.”
Menanti Babak Hukum
Kasus SI menunjukkan betapa “ilusi kedekatan dengan elite” kerap dijadikan alat untuk meyakinkan target investasi. Nilai Rp1 miliar lebih memang “kecil” bagi konglomerat, tetapi bagi pelaku UMKM seperti Dimas, kerugian itu bisa mematikan bisnis dan mimpi. Proses di Polres Metro Jakarta Selatan akan menjadi panggung pembuktian apakah SI hanya tergelincir cash flow atau sengaja menjerat korban melalui strategi licin.
Selagi aparat menelusuri aliran uang dan menanti hasil klarifikasi terduga, publik diingatkan: investasi sejati tak pernah datang bersama janji imbal hasil fantastis dan foto bareng pejabat. Miliyaran raib adalah peringatan bahwa kewaspadaan hukum—sebagaimana kain—harus dijahit rapi sebelum dikenakan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









