Dalam kunjungannya ke Kecamatan Amarasi Selatan, usai meninjau SD Inpres Buraen 2, Bupati Yosef langsung menuju dua lokasi proyek tersebut. Di sana, ia menyaksikan sendiri dampak buruk dari proyek yang mangkrak.
“Kita semua tahu dana besar dikucurkan, tapi hasilnya nol. Kualitas pembangunannya jauh dari layak dan tidak memberikan manfaat apa-apa bagi masyarakat,” tegas Yosef kepada wartawan.
Namun kritiknya tak berhenti di situ. Dengan nada yang lebih serius, ia menambahkan:
“Ini bukan cuma proyek mangkrak. Ini simbol kejahatan anggaran. Indikasi ketidakwajaran dalam pelaksanaan sangat jelas. Kita akan telusuri lebih lanjut.”
Pernyataan ini menandai sebuah titik balik, di mana kepala daerah tidak sekadar menutup mata atas warisan pembangunan yang gagal, tetapi justru membuka peluang penyelidikan lebih mendalam terhadap kemungkinan adanya penyimpangan anggaran.
Simbol Kegagalan atau Cermin Kesengajaan?
Pertanyaan yang kini menggantung adalah: apakah proyek ini gagal karena perencanaan yang buruk dan lemahnya pengawasan, bencana atau justru merupakan cermin dari kesengajaan sistematis untuk menguras uang rakyat dengan dalih pembangunan?
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








