Seorang warga Baniyas, kota yang paling parah terkena dampak kekerasan, menceritakan bahwa mayat-mayat berserakan di jalan dan dibiarkan begitu saja di rumah-rumah serta atap gedung. “Itu sangat buruk, mayat-mayat tergeletak di jalan,” kata Ali Sheha, yang melarikan diri bersama keluarganya setelah bentrokan dan serangan yang terjadi pada Jumat lalu. Sheha menggambarkan serangan tersebut sebagai pembalasan terhadap minoritas Alawite atas tindakan kejam yang dilakukan oleh pemerintahan Assad.
Rami Abdurrahman, kepala Observatorium Suriah, menyebut bentrokan dan pembunuhan balas dendam ini sebagai salah satu pembantaian terbesar dalam sejarah konflik Suriah. Sebelumnya, kelompok ini melaporkan bahwa lebih dari 600 orang tewas, namun angka yang lebih baru mengindikasikan lebih dari 1.000 korban tewas.
Di desa Tuwaym, 31 jenazah yang tewas akibat serangan balas dendam dikuburkan di sebuah kuburan massal. Korban yang tewas termasuk sembilan anak-anak dan empat wanita.
Seorang anggota parlemen Lebanon, Haidar Nasser, melaporkan bahwa banyak warga Alawite melarikan diri ke Lebanon untuk menyelamatkan diri. Nasser menyatakan bahwa banyak orang berlindung di pangkalan udara Rusia di Hmeimim dan menyerukan masyarakat internasional untuk memberikan perlindungan kepada warga Alawite, yang sebagian besar setia kepada negara mereka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








