Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Mendidik Hati, Bukan Sekadar Mengisi Pikiran

IMG 20260208 113059

Masalah ini bukan sekadar persoalan pergaulan siswa, melainkan krisis karakter. Nilai kasih, empati, dan tolong-menolong yang diajarkan di kelas sering berhenti pada hafalan. Anak-anak tahu apa itu kebaikan, tetapi belum terbiasa melakukannya. Padahal, karakter tidak dibentuk lewat teori semata, melainkan melalui pengalaman dan pembiasaan.

Berangkat dari keprihatinan itu, saya mencoba menerapkan pendekatan yang saya sebut “Diakonia Sebaya,” pelayanan antarteman. Dalam pembelajaran, saya menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai, tetapi juga dari sikap saling membantu. Siswa yang lebih cepat memahami pelajaran didorong menjadi pendamping belajar bagi teman yang masih kesulitan. Dalam kerja kelompok, perhatian terhadap anggota yang paling lemah menjadi bagian dari penilaian.

Advertisement
PASANG IKLAN DISINI
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pendekatan ini sederhana, tetapi dampaknya mulai terasa. Anak-anak terbiasa berbagi alat tulis, membantu menjelaskan materi, dan memberi dukungan tanpa diminta. Suasana kelas menjadi lebih hangat dan inklusif. Siswa yang sebelumnya minder perlahan berani terlibat karena merasa dihargai. Mereka tidak lagi melihat teman sebagai pesaing, melainkan sebagai sesama yang perlu ditolong.

Baca Juga :  Workshop STAKRI–ELPIDA: Guru Kristen Ditantang Jadi Solusi Kemiskinan NTT
  • Bagikan