Masalah ini bukan sekadar persoalan pergaulan siswa, melainkan krisis karakter. Nilai kasih, empati, dan tolong-menolong yang diajarkan di kelas sering berhenti pada hafalan. Anak-anak tahu apa itu kebaikan, tetapi belum terbiasa melakukannya. Padahal, karakter tidak dibentuk lewat teori semata, melainkan melalui pengalaman dan pembiasaan.
Berangkat dari keprihatinan itu, saya mencoba menerapkan pendekatan yang saya sebut “Diakonia Sebaya,” pelayanan antarteman. Dalam pembelajaran, saya menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai, tetapi juga dari sikap saling membantu. Siswa yang lebih cepat memahami pelajaran didorong menjadi pendamping belajar bagi teman yang masih kesulitan. Dalam kerja kelompok, perhatian terhadap anggota yang paling lemah menjadi bagian dari penilaian.
Pendekatan ini sederhana, tetapi dampaknya mulai terasa. Anak-anak terbiasa berbagi alat tulis, membantu menjelaskan materi, dan memberi dukungan tanpa diminta. Suasana kelas menjadi lebih hangat dan inklusif. Siswa yang sebelumnya minder perlahan berani terlibat karena merasa dihargai. Mereka tidak lagi melihat teman sebagai pesaing, melainkan sebagai sesama yang perlu ditolong.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








