Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Tiga Luka Lama Indonesia: Korupsi, Kemiskinan, dan Hilangnya Tanah Adat

Kontributor : SN Editor: Redaksi
tiga-luka-lama-indonesia-korupsi-kemiskinan-dan-hilangnya-tanah-adat
Tiga Luka Lama Indonesia: Korupsi, Kemiskinan, dan Hilangnya Tanah Adat

Di balik setiap praktik korupsi, ada rakyat yang kehilangan hak: anak yang tak dapat beasiswa, pasien yang tak terlayani, jalan yang tak pernah selesai dibangun. Korupsi menguras anggaran publik, tapi lebih dalam lagi, ia menguras kepercayaan rakyat terhadap negara.

Keadilan sosial mustahil terwujud di tengah kekuasaan yang dijalankan untuk memperkaya diri. Negara kehilangan wibawa ketika pejabatnya menjadikan jabatan sebagai ladang transaksi. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap sila kelima Pancasila—pengkhianatan terhadap rasa keadilan.

Kemiskinan: Warisan dari Sistem yang Tidak Adil

Kemiskinan di Indonesia bukan karena rakyat malas, tetapi karena sistem yang tidak berpihak. Ketimpangan masih menjadi wajah dominan ekonomi nasional. Berdasarkan laporan berbagai lembaga riset, 1% kelompok elit menguasai lebih dari setengah kekayaan negeri. Sementara di pelosok, jutaan orang masih berjuang sekadar untuk makan tiga kali sehari.

Di Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Maluku, kemiskinan menjadi kisah turun-temurun. Petani bekerja keras di lahan kering, nelayan melaut tanpa alat layak, dan masyarakat adat menjaga tanahnya tanpa pengakuan hukum. Pembangunan yang seharusnya menyejahterakan justru sering kali menyingkirkan.

Baca Juga :  Linus Lusi: Pancasila, Kekuatan Pemersatu Bangsa untuk Hadapi Ancaman
  • Bagikan