Saya kemudian menyadari bahwa keaktifan belajar tidak dapat dipisahkan dari kemampuan dasar literasi dan numerasi.
Bagaimana seorang murid berani menyampaikan pendapat jika ia kesulitan membaca informasi yang menjadi bahan pembicaraan? Bagaimana ia dapat menyelesaikan persoalan Matematika jika memahami perintah dalam soal saja masih menjadi tantangan?
Dari sinilah saya mulai mencari cara agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi, tetapi benar-benar membantu murid memahami, mencoba, bertanya, berdiskusi, dan menemukan solusi.
Saya Tidak Bisa Mengajar Semua Murid dengan Cara yang Sama
Salah satu pelajaran penting yang saya peroleh adalah bahwa kelas yang sama tidak selalu membutuhkan cara belajar yang sama.
Kemampuan murid berbeda. Kesiapan mereka berbeda. Cara mereka memahami informasi juga berbeda. Karena itu, saya mulai menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dalam proses pembelajaran.
Bagi murid yang membutuhkan bantuan lebih banyak, saya memberikan pendampingan secara bertahap. Mereka tidak langsung diberi tugas yang sama tingkat kesulitannya dengan murid yang sudah lebih siap. Sementara itu, murid yang sudah memiliki kemampuan lebih baik diberikan kesempatan untuk mengembangkan pemahamannya melalui persoalan yang lebih menantang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
