Tujuannya bukan membeda-bedakan murid, tetapi memberikan jalan belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dalam praktiknya, saya juga menggunakan gambar, benda konkret, cerita, diskusi, tayangan visual, serta aktivitas yang memungkinkan murid belajar melalui pengalaman langsung. Saya tidak ingin pembelajaran hanya berlangsung melalui ceramah guru dan buku teks.
Murid perlu melihat persoalan, membicarakannya, mencoba menyelesaikannya, dan menjelaskan kembali apa yang mereka pahami.
Dari Soal di Buku ke Masalah di Sekitar Murid
Pada tahap berikutnya, saya mencoba mengintegrasikan Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran.
Sederhananya, murid tidak hanya diberikan materi kemudian soal. Mereka diajak berhadapan dengan sebuah persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Mengapa pendekatan seperti ini penting?
Karena literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan membaca teks atau melakukan operasi hitung. Murid perlu belajar menggunakan kemampuan tersebut untuk memahami situasi dan mengambil keputusan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
