Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kritis Menimbang Kekuatan Para Calon Gubernur NTT

Editor: Pius Rengka
IMG 20240424 161408

Namun, satu hal telah sangat jelas dengan sendirinya. Koalisi partai politik di Indonesia, tidak mudah dan tidak murah. Mengapa? Karena koalisi partai politik versi Indonesia tidak berbasis pada spektrum imajinasi kedekatan ideologis partai. Koalisi selalu ditentukan oleh kesepakatan harga jual beli kursi.

Jika harga jual paling murah Rp. 500 juta/kursi, maka PDIP dan Golkar harus belanja minimal 4 kursi atau setara dengan Rp. 2 miliar. Itu pun jika partai asal kandidat tidak ikut-ikutan minta duit.

Namun, Ansy dan Melki patut serius mempertimbangkan sikap yang dipilih karena keduanya telah terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2024-2029. Jika PDIP dan Golkar mencalonkan keduanya, maka Ansy dan Melki harus mengudurkan diri dari DPR RI seturut ketentuan Undang-undang.

Pilihan ini tentu saja, sungguh sangat tidak mudah. Dilematis. Bahkan ambivalen atau multivalen. Maka Ansy dan Melki harus serius mempertimbangkannya. Mana pilihan yang lebih menguntungkan. Membuang keuntungan yang telah nyata-nyata ada di tangan atau membayangkan keuntungan yang belum tentu diperoleh. Belum dihitung berapa kiranya biaya yang mesti digelontorkan untuk mengikuti seluruh etape elektorasi. Jalan yang ditempuh memang masih sangat panjang. Tetapi, jalan apa pun yang dipilih tentulah berisiko, toh mesti ditempuh. Jalan yang ditempuh bukan tanpa rasionalitas praktis. Karena hidup ini tidak lebih dari tumpukan pilihan.

Baca Juga :  Ekologi Sosial dan Tanggung Jawab Korporasi: Refleksi atas Gerakan Hijau Perumda Air Minum Kabupaten Kupang
  • Bagikan