Ketika Tari Tidak Lagi Menarik
Tantangan mulai terasa ketika Kurikulum Merdeka diterapkan dan saya harus memilih materi fokus untuk kelas X. Saya memilih Seni Tari. Pilihan itu ternyata membuka persoalan yang tidak sederhana.
Sebagian besar peserta didik ternyata kurang tertarik pada tari, terutama tari tradisional daerah mereka sendiri. Ada yang hanya menyukai tari modern, ada yang sekadar penonton, ada yang enggan bergerak sama sekali. Bahkan tidak sedikit siswa khususnya laki-laki yang memilih duduk di belakang, ribut, atau mengejek teman yang tampil.
Fenomena ini bukan sekadar soal “tidak suka menari”. Ini adalah sinyal berkurangnya kedekatan generasi muda dengan budaya lokal. Ironisnya, mereka lebih antusias pada budaya luar daripada warisan daerah sendiri. Jika dibiarkan, sikap ini perlahan mengikis rasa memiliki terhadap budaya. Akibatnya, pelajaran Seni Budaya hanya dijalani sebagai rutinitas. Tidak ada makna, tidak ada keterlibatan, tidak ada kebanggaan.
Strategi: Mengubah Penolakan Menjadi Partisipasi
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








