Sebagai guru, saya menyadari satu hal penting: memaksa tidak akan melahirkan cinta. Maka saya mencoba mengubah pendekatan.
Pertama, saya memulai dengan asesmen awal. Di pertemuan pertama, saya membagikan kuesioner sederhana untuk mengetahui minat siswa terhadap tari. Dari situ, saya membentuk kelompok campuran: siswa yang suka tari, yang biasa saja, dan yang tidak suka disatukan. Siswa yang memiliki minat lebih saya dorong menjadi tutor sebaya. Perlahan, suasana belajar berubah. Siswa tidak lagi belajar dari guru saja, tetapi dari teman mereka sendiri.
Kedua, saya memberi makna sebelum memberi gerakan. Setiap tari yang dipelajari selalu diawali dengan cerita: makna, latar budaya, pesan moral, dan nilai kehidupan di balik gerakannya. Ketika siswa tahu bahwa sebuah tarian bercerita tentang perjuangan, persatuan, atau penghormatan pada leluhur, mereka mulai melihat tari bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi ekspresi identitas.
Ketiga, saya membuka ruang perbandingan, bukan pertentangan. Saya tidak menolak ketertarikan mereka pada tari modern. Justru itu menjadi pintu masuk. Dari sana, kami berdiskusi: apa bedanya dengan tari tradisional? Nilai apa yang sama? Siswa akhirnya menyadari bahwa semua tari adalah bentuk budaya yang patut dihargai termasuk budaya mereka sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








