Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dua Pimpinan DPRD Kabupaten Malaka Terjerat Pinjaman Kontroversial Rp3 Miliar: Risiko Hukum dan Bunga Tinggi Mengancam

Editor: SN001
IMG 20240413 WA0013
Ketua DPRD Malaka Adrianus Bria Seran dan Wakil Ketua Hendikus Fahik Taek. (dok.by google/sei-news)

Bunga pinjaman 15% per bulan bisa dianggap sangat tinggi dan mungkin termasuk dalam praktik rentenir yang dapat merugikan pihak pertama, terutama jika pinjaman tidak dapat dilunasi tepat waktu.

Pinjaman dari perorangan tanpa badan hukum juga dapat mengarah pada ketidakjelasan dalam penegakan perjanjian dan penyelesaian sengketa jika terjadi masalah.

Analisis Mendalam: Permasalahan Utang Rp3 Miliar dengan Bunga 15% DPRD Kabupaten Malaka

Kasus utang Rp3 miliar dengan bunga 15% yang melibatkan DPRD Kabupaten Malaka telah menarik perhatian publik dan menimbulkan banyak pertanyaan terkait etika dan integritas lembaga perwakilan rakyat daerah tersebut.

Praktisi hukum asal Kabupaten Malaka, Yulius Benyamin Seran, menyoroti permasalahan ini sebagai perbuatan melawan hukum dan dugaan penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) yang berjemaah.

1. Dugaan Penyalahgunaan Kewenangan: Yulius Benyamin Seran mencatat bahwa tindakan DPRD yang mengambil utang dengan suku bunga tinggi dapat dianggap sebagai perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan kewenangan.

Baca Juga :  Tim Kemenkumham Lakukan Pemeriksaan Subtansif di Malaka untuk Perlindungan Tenun Ikat Fehan
  • Bagikan