“Kami tahu dia hancur hati. Mama selalu bilang dia harus jadi tentara. Jadi waktu dia tetap ikut pelantikan, kami percaya itu karena dia mau wujudkan pesan mama,” kata Fridz.
Dari Duka ke Baret Merah
Kabar membanggakan datang tak lama kemudian. Bersama kakaknya, Petrus menerima informasi bahwa ia lulus seleksi pasukan elite dan berhak mengikuti pendidikan Kopassus.
Pada November 2025, ia memulai pendidikan yang dikenal keras dan penuh disiplin. Latihan fisik ekstrem, ujian mental, hingga seleksi berlapis menjadi bagian dari proses tersebut.
Akhirnya, pada 25 Februari 2026, pemuda dari pelosok Amfoang Timur itu resmi dilantik sebagai prajurit Kopassus.
Bagi keluarga di Netemnanu Selatan, pencapaian itu bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan simbol bahwa keterbatasan ekonomi, status yatim piatu, dan kegagalan berulang bukan akhir dari segalanya.
“Dia bukti kalau anak kampung juga bisa. Gagal lima kali bukan berarti Tuhan tutup jalan. Mungkin Tuhan cuma suruh sabar,” ujar Fridz.
Kisah Petrus Manuel menjadi pengingat bahwa keteguhan hati sering kali lahir dari luka terdalam. Dari buruh bangunan, dari lima kali kegagalan, dari kehilangan seorang ibu, ia berdiri sebagai prajurit baret merah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








